← Semua BeritaArtikel

WASPADAILAH PERANGKAP BERIKUT INI (Edisi Senin, 20 November 2017)

Oleh HDI Management Centre29 Januari 2018
WASPADAILAH PERANGKAP BERIKUT INI (Edisi Senin, 20 November 2017)

Salam Metamorfosa, Salam Perubahan…

 

Anda tentu bisa menyebut – atau bahkan membuat daftar – produk, perusahaan, ataupun organisasi yang dulu pernah menjadi market leader namun kini menjadi market follower. Bahkan tidak sedikit di antaranya yang dulu pernah berjaya, na-mun kini telah tiada. Salah satu penyebabnya adalah karena mereka masuk ke dalam perangkap kesuksesan (success trap).

 

Saat produk, perusahaan, atau organisasi meraih sukses, biasanya terlena. Seakan-akan mereka tidak punya pesaing yang pantas ditakuti. Padahal, seperti dikatakan Lior Arussy, bagian paling berbahaya dari setiap bisnis adalah kesuksesan. Kesuk-sesan melahirkan kepuasan. Kesuksesan mengubah Anda dari orang yang siap ber-karya menjadi orang yang siap menikmati.

 

Para pembaca yang siap berubah menjadi lebih baik…

 

Dampak lebih lanjut dari sebuah kesuksesan adalah menganggap bahwa kesuksesan hari kemarin bisa diterapkan untuk hari ini dan hari esok. Para peraih sukses akhir-nya enggan untuk membuka jendela untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar sana. Sebab mereka merasa nyaman dengan aktivitas yang ada di dalam ruangan. Akibatnya, mereka lamban mengantisipasi perubahan. Baik yang terjadi pada diri konsumen maupun pesaing.

 

Perangkap sukses ternyata bukanlah satu-satunya perangkap. Sebagaimana ditulis Rhenald Kasali dalam buku terbarunya Tomorrow is Today, kompetensi juga bisa menjadi perangkap. Kapan itu terjadi? Saat seorang profesional, pelaku bisnis, atau perusahaan hanya mengandalkan satu kompetensi atau keahlian saja.

 

Pada saat seorang profesional, pelaku bisnis, atau perusahaan masuk dalam pe-rangkap ini, seluruh energi dan perhatian hanya dicurahkan untuk menguatkan satu kompetensi atau keahlian saja. Sehingga ketika tuntutan jaman menghendaki ha-dirnya kompetensi yang lain atau yang berbeda, mereka tidak siap memenuhinya.

 

Bisa dibayangkan bila PT. Pegadaian (Persero) hanya berkutat pada kompetensi in-tinya saja. Demikian pula jika PT. Pos Indonesia (Persero) hanya suntuk ngurusi keahlian intinya saja. Kira-kira apa yang bakal terjadi? Mungkin nasib mereka tidak lebih baik daripada Pabrik Gula dan Perusahaan Pemintal Kapas yang telah lama berguguran satu persatu.

 

Untungnya PT. Pegadaian (Persero) dan PT. Pos Indonesia (Persero) menyadari tun-tutan perubahan jaman. Mereka akhirnya membangun kompetensi lain di luar kom-petensi inti, seperti bisnis perhotelan yang dimasuki oleh PT. Pegadaian (Persero), dan transfer uang elektronik yang dioperasikan PT. Pos Indonesia (Persero).

 

Masih ada lagi satu perangkap yang perlu kita waspadai, yakni perangkap menya-lahkan (blame trap). Perangkap ini sering juga disebut dengan istilah mencari kam-bing hitam. Ketika ada kegagalan atau ketidakcapaian target, penjualan yang me-nurun, maupun masalah-masalah yang lain, maka yang pertama-tama dicari adalah siapa yang harus disalahkan atau yang harus dipojokkan.

Lebih celakanya lagi, yang umumnya disalahkan atau dipojokkan adalah pihak-pihak yang ada di luar sana. Contoh yang paling mudah adalah yang dilakukan oleh sopir-sopir taksi konvensional. Mereka menuduh dan menyalahkan taksi on-line sebagai biang keladi menurunnya pendapatan mereka.

 

Lantas apa yang mesti kita lakukan agar tidak terperangkap pada kesuksesan, kom-petensi, dan mencari kambing hitam? Jawabannya tidak lain, jangan cepat puas, teruslah belajar hal-hal yang baru, dan evaluasilah diri sendiri secara berkala dan berkelanjutan. Siapkah Anda untuk melakukan ketiganya? Keep spirit & change your life.

 

*artikel ini telah dimuat di harian Republika
Chat